Pendekatan Interdisipliner dalam Integrasi Keilmuan Islam di Era Digital

Oleh: Imam Irfai

UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
đź“§ faillacorp@gmail.com

Abstrak Ringkas

Era digital menghadirkan tantangan dan peluang baru bagi pendidikan Islam. Di tengah derasnya arus teknologi dan globalisasi, muncul kebutuhan akan paradigma keilmuan yang tidak hanya bersifat parsial, tetapi integratif, kolaboratif, dan aplikatif.

Tulisan ini membahas hasil penelitian berjudul Pendekatan Interdisipliner dalam Integrasi Keilmuan dan Aplikasinya terhadap Penguatan Paradigma Keilmuan Islam di Era Digital. Kajian ini menggunakan pendekatan pustaka konseptual (library research) dengan analisis deskriptif-kritis terhadap karya-karya pemikir Muslim seperti Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib al-Attas, Mulyadhi Kartanegara, Prof. Ngainun Naim, dan Prof. Akhyak.

Penelitian ini menawarkan model konseptual “Segitiga Integratif” yang memadukan tiga pilar utama:

  1. Tauhidic Foundation – landasan spiritual dan moral,
  2. Rational–Scientific Inquiry – proses ilmiah dan metodologis, dan
  3. Ethical Application – orientasi aksiologis terhadap kemaslahatan.

Model ini tidak hanya menjadi kerangka teoritis, tetapi juga panduan praktis dalam pengembangan kurikulum, manajemen lembaga pendidikan Islam, serta kepemimpinan berbasis nilai di era digital.


Latar Akademik dan Urgensi Kajian

Dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum masih menjadi problem mendasar dalam sistem pendidikan Islam. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan yang kesulitan membangun hubungan sinergis antara iman dan rasionalitas ilmiah.

Menurut Al-Faruqi (1982), proses Islamisasi ilmu diperlukan untuk mengembalikan kesatuan pandangan hidup Islam (unity of knowledge). Hal ini sejalan dengan gagasan Al-Attas (1995) tentang rekonstruksi metafisika Islam yang mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman empiris dalam satu sistem keilmuan yang utuh.

Dalam konteks kekinian, Ngainun Naim (2018) mengembangkan epistemologi Mystico-Philosophy, yakni pendekatan keilmuan yang menggabungkan rasionalitas, empirisme, dan spiritualitas. Sedangkan Akhyak (2024) menekankan perlunya pendekatan interdisipliner dalam studi Islam modern agar mampu menjawab kompleksitas sosial, ekonomi, dan kultural masyarakat global.

Dengan dasar itu, pendidikan Islam perlu mentransformasikan paradigma keilmuan menuju pendekatan interdisipliner yang holistik dan aplikatif.


Metode Penelitian

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka konseptual, berfokus pada analisis dan sintesis teori dari sumber ilmiah bereputasi. Prosesnya meliputi:

  1. Pengumpulan data literatur dari jurnal Scopus, buku filsafat ilmu Islam, dan artikel akademik kontemporer.
  2. Klasifikasi dan verifikasi literatur berdasarkan relevansi dan kekuatan argumentatif (Bowen, 2009).
  3. Analisis hermeneutik dan deskriptif-kritis untuk mengungkap hubungan antargagasan dan menghasilkan model konseptual baru.

Teknik analisis dokumen ala Bowen (2009) digunakan untuk menafsirkan data teks secara sistematis dan memastikan konsistensi logis antar teori.


Model Konseptual: “Segitiga Integratif”

Model ini menjadi inti dari penelitian. Ia menggambarkan bagaimana keilmuan Islam dapat dikembangkan secara seimbang antara nilai spiritual dan rasionalitas ilmiah.

🔹 1. Tauhidic Foundation

Menjadi sumber nilai utama dan tujuan akhir dari seluruh kegiatan keilmuan. Setiap disiplin ilmu harus berorientasi pada kesatuan Tuhan (tauhid) dan kemaslahatan umat manusia.

🔹 2. Rational–Scientific Inquiry

Merujuk pada proses metodologis ilmiah yang memanfaatkan akal dan pengalaman empiris, namun tetap dalam bingkai nilai-nilai keislaman.

🔹 3. Ethical Application

Menekankan penerapan ilmu secara etis dan bermoral untuk membangun peradaban yang berkeadilan, bukan hanya menghasilkan teknologi atau produk pengetahuan.

Ketiga pilar ini saling berhubungan membentuk sistem keilmuan yang holistik, dinamis, dan berorientasi pada nilai.

(Bapak dapat menyertakan ilustrasi gambar segitiga integratif di bagian ini.)


Hasil dan Pembahasan

  1. Pendekatan interdisipliner membuka dialog epistemologis antara wahyu dan rasionalitas ilmiah, sehingga pendidikan Islam mampu menyeimbangkan aspek spiritual dan empiris.
  2. Model Segitiga Integratif memberikan kerangka teoretis yang dapat diimplementasikan dalam desain kurikulum, manajemen, dan kepemimpinan pendidikan Islam.
  3. Aplikasi di era digital menunjukkan relevansi pendekatan ini terhadap inovasi pendidikan — misalnya dalam learning management system pesantren modern yang memadukan tarbiyah ruhaniyah dengan sistem akademik berbasis teknologi.

Hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa integrasi keilmuan melalui pendekatan interdisipliner dapat memperkuat karakter, inovasi, dan mutu lembaga pendidikan Islam secara berkelanjutan.


Kesimpulan

Pendekatan interdisipliner dalam integrasi keilmuan Islam bukan sekadar konsep teoritis, tetapi strategi epistemologis dan praksis kelembagaan.
Paradigma ini menegaskan bahwa ilmu tidak boleh terpisah dari nilai, dan nilai harus menemukan bentuk konkret dalam ilmu dan teknologi.

Era digital memberikan peluang besar untuk menghidupkan kembali semangat integratif ini — melalui manajemen pendidikan berbasis nilai, kurikulum kolaboratif, dan kepemimpinan yang memadukan iman, ilmu, dan amal.


Rekomendasi

  1. Kurikulum integratif yang menghubungkan ilmu agama, sains, dan teknologi.
  2. Pelatihan literasi epistemologis dan digital bagi tenaga pendidik dan pengelola lembaga Islam.
  3. Kebijakan lembaga yang mendorong penelitian interdisipliner berbasis nilai Islam.
  4. Riset empiris lanjutan untuk menguji efektivitas model segitiga integratif di berbagai lembaga pendidikan.

Unduhan dan Referensi

đź“„ Unduh File Jurnal (PDF): Klik di sini untuk mengunduh
🎞️ Akses Slide Presentasi: Klik di sini untuk mengunduh

Referensi Pilihan

  • Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of Knowledge. Herndon: IIIT.
  • Al-Attas, S. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
  • Naim, N. (2018; 2022). Mystico-Philosophy dan Integration of Madrasah Diniyah Learning Systems.
  • Akhyak, A. (2024). Islamic Study with an Integrative–Interdisciplinary Approach.
  • Repko, A. F., & Szostak, R. (2017). Interdisciplinary Research: Process and Theory.
  • Bowen, G. A. (2009). Document Analysis as a Qualitative Research Method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40.
  • Muslih, M., Yahya, Y. K., & Haryanto, S. (2024). Al-Qur’an-Based Paradigm in Science Integration. HTS Theological Studies.

Penutup

Tulisan ini merupakan refleksi akademik atas pentingnya menyatukan kembali spiritualitas, rasionalitas, dan moralitas dalam sistem keilmuan Islam.
Dengan pendekatan interdisipliner, pendidikan Islam tidak hanya menyiapkan peserta didik untuk menghadapi dunia kerja, tetapi juga membentuk manusia beriman, berilmu, dan beradab di era digital.

“Ilmu tanpa nilai kehilangan arah; nilai tanpa ilmu kehilangan kekuatan.”
— Ngainun Naim (2022)


Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *